UJIAN NASIONAL ( UNNAS ) 2006
Souvenir by 3 Secretary 1
Ujian Nasional atau yang biasa disebut dengan UAN atau UNNAS kali ini bagiku sangat berbeda. “Passing Grade” atau standar kelulusan yang ditetapkan adalah 4.26 (Empat koma Dua Enam) kurang dari itu tidak lulus. Bahkan yang lebih menjadi tantangan di ujian kali ini adalah bahwa siswa yang nantinya tidak memenuhi standar kelulusan dan tidak lulus tidak bisa mengikuti ujian ulangan. karena pada tahun ini memang tidak diadakan ujian ulangan, sehingga jika tidak lulus maka siswa tersebut harus mengulanginya kembali selama setahun. Nah..mungkin hal inilah yang membuat saya tertarik untuk menuliskan pengalaman saya selama menghadapi, mempersiapkan, belajar kelompok, try-out hingga mengikuti Ujian Nasional.
Sudah beberapa kali guru–guru kami menggembar-gemborkan untuk meningkatkan intesitas belajar di akhir semester dan mengurangi kegiatan-kegiatan yang kurang berguna misalkan bermain, nonton TV, main Playstation, nonton bola sampai larut malam hingga hal-hal yang tidak bermanfaaat seperti membolos, mencontek, telat masuk kelas, bengong waktu dikasih pelajaran, hingga problem “Pacaran”.
Bagi mereka yang punya “do’i” atau dalam bahasa kerennya “Gebetan” khususnya di sekolahnya sendiri, mereka harus “meng-CUT-nya” untuk sementara waktu. Hal ini dimaksudkan agar mereka dapat lebih berkonsentrasi pada “belajar”nya bukan pada “Pujaan hatinya”. Masalah yang satu ini memang bukan masalah gampang. Mungkin bagi mereka yang hubungannya sudah mulai renggang, PHP (Pemutusan Hubungan Pacaran) mungkin mudah untuk dilakukan, lalu bagaimana dengan mereka yang baru beberapa bulan atau bahkan beberapa hari baru jadian ketika masih “anget-angetnya” ? bisa jadi masalah yang sulit.
Tapi ini semua tergantung pada masing-masing siswanya. Jika mereka sadar akan pentingnya belajar yang akan mengantarkan mereka pada pintu gerbang “kelulusan” mereka akan mengikuti dan melaksanakan anjuran tersebut tetapi ada saja mereka yang menganggap nasehat itu hanyalah “Bualan” semata. Yang masuk melalui telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri, nasehatnya sama sekali tak “digubris”. Seakan akan mereka yakin dan PD bahwa mereka pasti lulus karena yang ada di benak mereka hanyalah “lulus” tanpa memikirkan prestasi dan usaha untuk mencapainya. Fenomena ini sangat sering terjadi pada anak-anak SMU yang kesemuanya rata-rata masih 17-an tahun.
Pelajaran yang dikonsentrasikan untuk dipelajari lebih intensif adalah Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Karena ketiga mata pelajaran ini menjadi mata uji di UNNAS 2006 ini. Segala daya dan upaya dilakukan oleh guru-guru kami untuk “menggodok” siswa-siswinya agar siap dan matang ketika UNNAS tiba. Hingga, Bu Eni (guru Bahasa Inggris), Pak Maskur (guru Matematika) dan Pak Ali (guru bahasa Indonesia) melakukan “Jurus”nya masing-masing untuk “menggembleng” kami khususnya anak-anak Sekretaris.
Setelah Uji Kompetensi dan Ujian Praktek selesai, waktu kurang lebih dua minggu sebelum hari H (pelaksanaan UNNAS) digunakan hanya untuk mempelajari tiga mata pelajaran tersebut. yang setiap harinya kami selalu “dicekoki” dengan tiga mata pelajaran tersebut. Perasaan was-was seperti dikejar-kejar serta “deg-degan” semakin memuncak ketika hari “H” tinggal beberapa hari lagi.
Bu Eni (lengkapnya Eni Sulistyowati) adalah guru bahasa Inggris kami yang lebih mengkonsentrasikan pada latihan-latihan UNNAS seperti latihan test “TOEIC”( Test of English International Communnication) , memperdalam “grammar”, structure, reading serta listeningnya. Karena Bu Eni adalah wali kelas kami sehingga kami selalu antusias memperhatikan penjelasannya. Tak lupa trip dan trik untuk menjawab dengan cepat dan benar juga ia berikan, kami sangat kagum dengan caranya mengajar dan menjelaskan.
Kemudian Pak Maskur (lengkapnya Muhammad Maskur) adalah guru Matematika kami, walaupun terlihat sangat tegas dan dispilin, pak maskur selalu memberikan penjelasan-penjelasan yang “gamblang”. Ia juga tak lupa memberikan sanksi bagi mereka yang tidak serius ketika diberi penjelasan, seperti dusuruh maju ke depan dan menjelaskannya. Hal ini semata-mata ia lakukan agar kami benar-benar menguasai materi agar nantinya tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan. Karena kita semua tahu bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang kami rasa paling sukar. Hal ini terlihat dalam “try-out”nya yang kebanyakan dari kami tidak lulus untuk pelajaran yang satu ini. Selain menambah jam khusus atau jam tambahan untuk matematika tak lupa ia juga memberikan trip-trik untuk mengerjakan dengan cepat dan benar “ala Pak Maskur”.
Terakhir Pak Ali (lengkapnya H. Ali Mustofa) adalah satu-satunya guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas tiga. Anggapan bahwa bahasa Indonesia adalah pelajaran yang paling mudah ternyata tidak benar, karena dalam Tryout masih saja ada siswa yang tidak lulus dari mata pelajaran ini. Sehingga guru yang disapa dengan “Pak Haji” ini berusaha keras agar di UNNAS nanti kami tidak mengalami hambatan dalam mengerjakan, lebih-lebih tidak lulus karena pelajaran ini. Ia lebih menkonsentrasikan pada pemahaman bacaan karena kita semua tahu bahwa soal-soal bahasa Indonesia sebagian besar berasal dari sumber bacaan yang di uraikan cukup panjang. Sehingga kami diberi nasihat agar tidak terburu-buru dalam mengerjakan soal serta memahami betul apa yang ada dalam isi bacaan. Materi-materi yang lain juga ia berikan untuk menambah pemahaman kami tentang tata kalimat, wacana, struktur, kosa kata, sastra dan lain sebagainya.
Itulah guru-guru kami, mereka berusaha keras agar kami mampu dalam mengerjakan sehingga bisa meraih bendera “Passing Grade 4.26” itu. Terima kasih Pak Guru, terima kasih bu Guru, terima kasih “Pahlawan tanpa tanda jasa” ku.
Ujian Nasional atau yang biasa disebut dengan UAN atau UNNAS kali ini bagiku sangat berbeda. “Passing Grade” atau standar kelulusan yang ditetapkan adalah 4.26 (Empat koma Dua Enam) kurang dari itu tidak lulus. Bahkan yang lebih menjadi tantangan di ujian kali ini adalah bahwa siswa yang nantinya tidak memenuhi standar kelulusan dan tidak lulus tidak bisa mengikuti ujian ulangan. karena pada tahun ini memang tidak diadakan ujian ulangan, sehingga jika tidak lulus maka siswa tersebut harus mengulanginya kembali selama setahun. Nah..mungkin hal inilah yang membuat saya tertarik untuk menuliskan pengalaman saya selama menghadapi, mempersiapkan, belajar kelompok, try-out hingga mengikuti Ujian Nasional.
Sudah beberapa kali guru–guru kami menggembar-gemborkan untuk meningkatkan intesitas belajar di akhir semester dan mengurangi kegiatan-kegiatan yang kurang berguna misalkan bermain, nonton TV, main Playstation, nonton bola sampai larut malam hingga hal-hal yang tidak bermanfaaat seperti membolos, mencontek, telat masuk kelas, bengong waktu dikasih pelajaran, hingga problem “Pacaran”.
Bagi mereka yang punya “do’i” atau dalam bahasa kerennya “Gebetan” khususnya di sekolahnya sendiri, mereka harus “meng-CUT-nya” untuk sementara waktu. Hal ini dimaksudkan agar mereka dapat lebih berkonsentrasi pada “belajar”nya bukan pada “Pujaan hatinya”. Masalah yang satu ini memang bukan masalah gampang. Mungkin bagi mereka yang hubungannya sudah mulai renggang, PHP (Pemutusan Hubungan Pacaran) mungkin mudah untuk dilakukan, lalu bagaimana dengan mereka yang baru beberapa bulan atau bahkan beberapa hari baru jadian ketika masih “anget-angetnya” ? bisa jadi masalah yang sulit.
Tapi ini semua tergantung pada masing-masing siswanya. Jika mereka sadar akan pentingnya belajar yang akan mengantarkan mereka pada pintu gerbang “kelulusan” mereka akan mengikuti dan melaksanakan anjuran tersebut tetapi ada saja mereka yang menganggap nasehat itu hanyalah “Bualan” semata. Yang masuk melalui telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri, nasehatnya sama sekali tak “digubris”. Seakan akan mereka yakin dan PD bahwa mereka pasti lulus karena yang ada di benak mereka hanyalah “lulus” tanpa memikirkan prestasi dan usaha untuk mencapainya. Fenomena ini sangat sering terjadi pada anak-anak SMU yang kesemuanya rata-rata masih 17-an tahun.
Pelajaran yang dikonsentrasikan untuk dipelajari lebih intensif adalah Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Karena ketiga mata pelajaran ini menjadi mata uji di UNNAS 2006 ini. Segala daya dan upaya dilakukan oleh guru-guru kami untuk “menggodok” siswa-siswinya agar siap dan matang ketika UNNAS tiba. Hingga, Bu Eni (guru Bahasa Inggris), Pak Maskur (guru Matematika) dan Pak Ali (guru bahasa Indonesia) melakukan “Jurus”nya masing-masing untuk “menggembleng” kami khususnya anak-anak Sekretaris.
Setelah Uji Kompetensi dan Ujian Praktek selesai, waktu kurang lebih dua minggu sebelum hari H (pelaksanaan UNNAS) digunakan hanya untuk mempelajari tiga mata pelajaran tersebut. yang setiap harinya kami selalu “dicekoki” dengan tiga mata pelajaran tersebut. Perasaan was-was seperti dikejar-kejar serta “deg-degan” semakin memuncak ketika hari “H” tinggal beberapa hari lagi.
Bu Eni (lengkapnya Eni Sulistyowati) adalah guru bahasa Inggris kami yang lebih mengkonsentrasikan pada latihan-latihan UNNAS seperti latihan test “TOEIC”( Test of English International Communnication) , memperdalam “grammar”, structure, reading serta listeningnya. Karena Bu Eni adalah wali kelas kami sehingga kami selalu antusias memperhatikan penjelasannya. Tak lupa trip dan trik untuk menjawab dengan cepat dan benar juga ia berikan, kami sangat kagum dengan caranya mengajar dan menjelaskan.
Kemudian Pak Maskur (lengkapnya Muhammad Maskur) adalah guru Matematika kami, walaupun terlihat sangat tegas dan dispilin, pak maskur selalu memberikan penjelasan-penjelasan yang “gamblang”. Ia juga tak lupa memberikan sanksi bagi mereka yang tidak serius ketika diberi penjelasan, seperti dusuruh maju ke depan dan menjelaskannya. Hal ini semata-mata ia lakukan agar kami benar-benar menguasai materi agar nantinya tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan. Karena kita semua tahu bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang kami rasa paling sukar. Hal ini terlihat dalam “try-out”nya yang kebanyakan dari kami tidak lulus untuk pelajaran yang satu ini. Selain menambah jam khusus atau jam tambahan untuk matematika tak lupa ia juga memberikan trip-trik untuk mengerjakan dengan cepat dan benar “ala Pak Maskur”.
Terakhir Pak Ali (lengkapnya H. Ali Mustofa) adalah satu-satunya guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas tiga. Anggapan bahwa bahasa Indonesia adalah pelajaran yang paling mudah ternyata tidak benar, karena dalam Tryout masih saja ada siswa yang tidak lulus dari mata pelajaran ini. Sehingga guru yang disapa dengan “Pak Haji” ini berusaha keras agar di UNNAS nanti kami tidak mengalami hambatan dalam mengerjakan, lebih-lebih tidak lulus karena pelajaran ini. Ia lebih menkonsentrasikan pada pemahaman bacaan karena kita semua tahu bahwa soal-soal bahasa Indonesia sebagian besar berasal dari sumber bacaan yang di uraikan cukup panjang. Sehingga kami diberi nasihat agar tidak terburu-buru dalam mengerjakan soal serta memahami betul apa yang ada dalam isi bacaan. Materi-materi yang lain juga ia berikan untuk menambah pemahaman kami tentang tata kalimat, wacana, struktur, kosa kata, sastra dan lain sebagainya.
Itulah guru-guru kami, mereka berusaha keras agar kami mampu dalam mengerjakan sehingga bisa meraih bendera “Passing Grade 4.26” itu. Terima kasih Pak Guru, terima kasih bu Guru, terima kasih “Pahlawan tanpa tanda jasa” ku.



0 Comments:
Post a Comment
<< Home