KEMAHKU DI SLIDINGO PART II
Setelah kuteguk beberapa botol air akhirnya kamipun kembali melanjutkan perjalanan yang masih lumayan jauh kira-kira setengah perjalan lagi. Sampai akhirnya kami sampai di sebuah Desa yang tidak begitu banyak penghuninya, suasana rumah yang beratapkan “Seng” beserta bongkahan-bongkahan batu yang menghiasi dinding setiap rumah menambah semangatku untuk sampai ke “Camp Area” (lho lha hubungannya apa tunggu..tunggu.. kan setelah aku ngelihat rumah-rumah semacam itu tiba-tiba aku inget sama rumahku sendiri..dan aku jadi kangen rumah, pengen cepet pulang soalnya kalau dirumah pasti bisa tidur enak, tidur dikasur yang empuk. Nggak kayak gini udah kehujanan, bawa tas berat, laper pula…). Wah jadi ngalantur nih ceritanya, ya udah aku lanjutkan.
Setelah itu aku beserta rombongan yang lain singgah di sebuah Musholla di Desa itu, waktu itu menunjukkan pukul dua seperempat. Kami cepat-cepat masuk ke musholla karena hujan makin lama makin deres. Segera kulepas tas yang super berat itu dari pundakku seakan-akan ingin aku lempar saja tas sialan itu. Kemudian tanpa banyak basa-basi aku langsung menuju ketempat air wudhu tanpa memperhatikan sepatu yang masih menempel di kakiku sampai ada seorang temanku berteriak “ heh…heh..Wan. Wan ini musholla batas sucinya ada disitu, kamu mau bikin musholla ini kotor ? “ wah..wah ternyata ada yang salah pada diriku “ O’o..sepatuku belum tak lepas..mati aku.” Langsung aja aku lepas sepatu kotorku itu dan aku lempar keluar dari batas suci.
Setelah menunaikan sholat dzuhur sekaligus sholat ashar (he..he..sholatnya jadi tak jama’ dan tak Qosor soalnya nanti takut waktunya habis diperjalan.) sambil mengendurkan urat-uratku disana ku coba membuka tas yang sudah “buruk rupa” itu dan kukeluarkan isinya, dan ternyata..hah..pakaian, makanan, perabotanku basah semua. Nggak bisa ganti baju nih. Padahal rasanya udah mau masuk angin. Aku yakin kalau dirumah dan dalam kondisi semacam itu aku pasti udah masuk angin, tapi disana beda..Tuhan memang Adil ya..?.
Selang beberapa saat kamipun melanjutkan perjalanan kembali, perjalanan yang sangat melelahkan. Ya.. hal itu terlihat ketika para rombongan sudah berubah menjadi sekitar “5 watt” alias “lemes”. Tapi kata-kata seperti “ Ayo...,tinggal satu bukit lagi..kok” selalu memberi motivasi kepada kami untuk terus melanjutkan perjalanan, walaupun setiap kata-kata itu diucapkan pasti bukit itu masih ada lagi, lagi dan lagi, rasanya nggak ada habisnya.
Setelah beberapa bukit terlalui akhirnya kamipun sampai di “Camp Area” sebuah telaga (Telaga Dlingo) yang sangat indah dihiasi padang rumput hijau disekitarnya, seakan sebagai hadiah untuk perjalanan kami yang sangat melelahkan tapi sayang waktu itu kabut mulai turun sehingga pandangan kami mulai sulit untuk melihat dari jarak sekitar sepuluh meter.
Kabut mulai tebal saja dan udara pun mulai dingin, semakin dingin dan dingin sekali… kami tak tahu arah dan waktu. tetapi setelah kulihat arlojiku yang mulai mengembun ternyata sudah jam setengah lima padahal sepertinya sudah maghrib, maklum waktu itu sangat gelap dan mendung. Tak lama kemudian kamipun saling membuka isi dari tas kami dan mengeluarkan tenda yang akan digunakan. Satu persatu dari kami mulai bergotong royong mendirikan tenda di pinggir telaga itu. Walaupun saat itu sangat sulit untuk menirikan tenda tapi kami terus berusaha keras mendirikannya supaya nanti kami dapat beristirahat dengan nyaman walaupun dengan tanah berlumpur.
Bersambung



0 Comments:
Post a Comment
<< Home