Wednesday, August 02, 2006

Kemahku di Sidlingo Part 4 (Last Part)

…Setelah makan malam dengan semangkuk “Mie rebus sederhana dan tak begitu lezat itu” kami pun mulai menata perlengkapan kami, khususnya tikar yang memang pada saat itu telah basah akibat hujan yang tak henti-hentinya mengguyur. Kami mulai berfikir untuk menggunakan segala perlengkapan kami untuk kami jadikan alas sebagai alat pembaringan kami, tapi kami harus menerima untuk tidak bisa tidur malam itu karena segalanya basah, tanah yang basah, kain yang basah, segalanya basah dan dalam keadaan itu kami hanya bisa pasrah.
Senter, lampu badai, Obor mulai dinyalakan. Udara yang dingin masih sangat terasa bahkan saking dinginnya kami tak bisa merasakan apa-apa lagi. Api unggun yang kami nyalakan malam itu menjadi teman setia yang sedikitnya mampu menghangatkan badan kami tapi api itu sewaktu-waktu bisa padam karena angin dan hujan bisa turun kapan saja, terpaksa kami bergantian menjaganya.
Keesokan harinya ketika aku bangun, kubuka mataku perlahan dan tak kusadari ternyata langit sudah nampak terang dihiasi dengan kabut putih, dengan sedikit cahaya yang masuk melalui celah-celah tenda. Dengan kepala yang agak pusing, kucoba bangkitkan tubuhku dan kulihat arlojiku dan.” Astaga..! sudah jam setengah tujuh..aku belum sholat subuh..” langsung saja aku buang selimut yang masih menempel ditubuhku dan tak kusadari ternyata baju yang kupakai telah kering, ya bisa dibilang “Baju satu kering di badan…he.he..” aku segera membangunkan teman-temanku yang lain yang masih terlelap seraya berteriak “ Ooey..udah siang.. Oey… bangun-bangun !”
Bersama beberapa temanku aku mulai mencari mata air yang ada di sekitar “Camp” untuk kami gunakan berwudhu dan cuci muka dan akhirnya kurang lebih satu kilometer dari camp kami menemukan mata air dan segera tanpa basa basi kamipun langsung bergantian cuci muka dan wudhu.
Air yang kami gunakan itu terasa sangat dingin, saking dinginnya kami tak berani berlama-lama, muka, telapak tangan dan kaki kami terasa kaku. Bahkan ketika aku berkumur, air itu seakan-akan menusuk nusuk gigiku, ” wah…sakit banget..”
Kami ragu apakah sholat subuh yang kami kerjakan itu sah karena kami baru melaksanakannya sekitar jam tujuh yang pada waktu itu cuacanya seperti jam enam pagi saja. Ya..mungkin ini adalah shalat subuh tersiang yang pernah aku kerjakan. Kami melakukannya karena hal itu kami rasa mungkin lebih baik daripada tidak melakukannya sama sekali.
Kegiatan yang tadinya sudah kami rencanakan akhirnya terpaksa kami batalkan, pendakian, penjelajahan serta kegiatan lain tidak jadi dilaksanakan karena cuaca dan keadaan tidak mendukung. Kami khawatir jika kami tetap melakukan kegiatan-kegiatan itu resiko dan bahaya akan semakin besar. Sehingga kami memutuskan untuk melakukan kegiatan hanya disekitar pemukiman kami.
Selama tiga hari dua malam kami lalui hari-hari kami ditenda. Perasaan susah dan senang menjadi satu, sesekali aku menghubungi keluargaku yang ada di rumah..untuk memberitahukan keadaanku disana, Karena aku tahu sifat Ortuku, mereka selalu khawatir jika aku sedang melakukan pendakian.
Mungkin ini bisa menjadi pengalaman serta pelajaran khususnya bagi diriku sendiri karena melakukan pendakian atau kemah bukan merupakan hal yang mudah, bukan hanya bersenang-senang tetapi disamping itu resiko, tantangan serta hambatan sewaktu waktu datang menghadang dan tak jarang hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi. Hanya satu sikap yang dapat mencegah hal itu, yakni “ Hati-hati ”.

The End….

0 Comments:

Post a Comment

<< Home