Thursday, August 10, 2006

Alumnus 3 Sekretaris 1 th 2005/2006 SMK 2 Pekalongan


Mereka adalah teman - teman baikku, kami takkan melupakan satu sama lain.
Komunikasi adalah hal terbaik yang dapat kami lakukan agar tali silaturrami ini selalu terjalin.
Selamanya...

Wednesday, August 02, 2006

UJIAN NASIONAL ( UNNAS ) 2006

Souvenir by 3 Secretary 1


Ujian Nasional atau yang biasa disebut dengan UAN atau UNNAS kali ini bagiku sangat berbeda. “Passing Grade” atau standar kelulusan yang ditetapkan adalah 4.26 (Empat koma Dua Enam) kurang dari itu tidak lulus. Bahkan yang lebih menjadi tantangan di ujian kali ini adalah bahwa siswa yang nantinya tidak memenuhi standar kelulusan dan tidak lulus tidak bisa mengikuti ujian ulangan. karena pada tahun ini memang tidak diadakan ujian ulangan, sehingga jika tidak lulus maka siswa tersebut harus mengulanginya kembali selama setahun. Nah..mungkin hal inilah yang membuat saya tertarik untuk menuliskan pengalaman saya selama menghadapi, mempersiapkan, belajar kelompok, try-out hingga mengikuti Ujian Nasional.

Sudah beberapa kali guru–guru kami menggembar-gemborkan untuk meningkatkan intesitas belajar di akhir semester dan mengurangi kegiatan-kegiatan yang kurang berguna misalkan bermain, nonton TV, main Playstation, nonton bola sampai larut malam hingga hal-hal yang tidak bermanfaaat seperti membolos, mencontek, telat masuk kelas, bengong waktu dikasih pelajaran, hingga problem “Pacaran”.

Bagi mereka yang punya “do’i” atau dalam bahasa kerennya “Gebetan” khususnya di sekolahnya sendiri, mereka harus “meng-CUT-nya” untuk sementara waktu. Hal ini dimaksudkan agar mereka dapat lebih berkonsentrasi pada “belajar”nya bukan pada “Pujaan hatinya”. Masalah yang satu ini memang bukan masalah gampang. Mungkin bagi mereka yang hubungannya sudah mulai renggang, PHP (Pemutusan Hubungan Pacaran) mungkin mudah untuk dilakukan, lalu bagaimana dengan mereka yang baru beberapa bulan atau bahkan beberapa hari baru jadian ketika masih “anget-angetnya” ? bisa jadi masalah yang sulit.

Tapi ini semua tergantung pada masing-masing siswanya. Jika mereka sadar akan pentingnya belajar yang akan mengantarkan mereka pada pintu gerbang “kelulusan” mereka akan mengikuti dan melaksanakan anjuran tersebut tetapi ada saja mereka yang menganggap nasehat itu hanyalah “Bualan” semata. Yang masuk melalui telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri, nasehatnya sama sekali tak “digubris”. Seakan akan mereka yakin dan PD bahwa mereka pasti lulus karena yang ada di benak mereka hanyalah “lulus” tanpa memikirkan prestasi dan usaha untuk mencapainya. Fenomena ini sangat sering terjadi pada anak-anak SMU yang kesemuanya rata-rata masih 17-an tahun.

Pelajaran yang dikonsentrasikan untuk dipelajari lebih intensif adalah Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Karena ketiga mata pelajaran ini menjadi mata uji di UNNAS 2006 ini. Segala daya dan upaya dilakukan oleh guru-guru kami untuk “menggodok” siswa-siswinya agar siap dan matang ketika UNNAS tiba. Hingga, Bu Eni (guru Bahasa Inggris), Pak Maskur (guru Matematika) dan Pak Ali (guru bahasa Indonesia) melakukan “Jurus”nya masing-masing untuk “menggembleng” kami khususnya anak-anak Sekretaris.

Setelah Uji Kompetensi dan Ujian Praktek selesai, waktu kurang lebih dua minggu sebelum hari H (pelaksanaan UNNAS) digunakan hanya untuk mempelajari tiga mata pelajaran tersebut. yang setiap harinya kami selalu “dicekoki” dengan tiga mata pelajaran tersebut. Perasaan was-was seperti dikejar-kejar serta “deg-degan” semakin memuncak ketika hari “H” tinggal beberapa hari lagi.

Bu Eni (lengkapnya Eni Sulistyowati) adalah guru bahasa Inggris kami yang lebih mengkonsentrasikan pada latihan-latihan UNNAS seperti latihan test “TOEIC”( Test of English International Communnication) , memperdalam “grammar”, structure, reading serta listeningnya. Karena Bu Eni adalah wali kelas kami sehingga kami selalu antusias memperhatikan penjelasannya. Tak lupa trip dan trik untuk menjawab dengan cepat dan benar juga ia berikan, kami sangat kagum dengan caranya mengajar dan menjelaskan.

Kemudian Pak Maskur (lengkapnya Muhammad Maskur) adalah guru Matematika kami, walaupun terlihat sangat tegas dan dispilin, pak maskur selalu memberikan penjelasan-penjelasan yang “gamblang”. Ia juga tak lupa memberikan sanksi bagi mereka yang tidak serius ketika diberi penjelasan, seperti dusuruh maju ke depan dan menjelaskannya. Hal ini semata-mata ia lakukan agar kami benar-benar menguasai materi agar nantinya tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan. Karena kita semua tahu bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang kami rasa paling sukar. Hal ini terlihat dalam “try-out”nya yang kebanyakan dari kami tidak lulus untuk pelajaran yang satu ini. Selain menambah jam khusus atau jam tambahan untuk matematika tak lupa ia juga memberikan trip-trik untuk mengerjakan dengan cepat dan benar “ala Pak Maskur”.

Terakhir Pak Ali (lengkapnya H. Ali Mustofa) adalah satu-satunya guru bahasa Indonesia yang mengajar di kelas tiga. Anggapan bahwa bahasa Indonesia adalah pelajaran yang paling mudah ternyata tidak benar, karena dalam Tryout masih saja ada siswa yang tidak lulus dari mata pelajaran ini. Sehingga guru yang disapa dengan “Pak Haji” ini berusaha keras agar di UNNAS nanti kami tidak mengalami hambatan dalam mengerjakan, lebih-lebih tidak lulus karena pelajaran ini. Ia lebih menkonsentrasikan pada pemahaman bacaan karena kita semua tahu bahwa soal-soal bahasa Indonesia sebagian besar berasal dari sumber bacaan yang di uraikan cukup panjang. Sehingga kami diberi nasihat agar tidak terburu-buru dalam mengerjakan soal serta memahami betul apa yang ada dalam isi bacaan. Materi-materi yang lain juga ia berikan untuk menambah pemahaman kami tentang tata kalimat, wacana, struktur, kosa kata, sastra dan lain sebagainya.

Itulah guru-guru kami, mereka berusaha keras agar kami mampu dalam mengerjakan sehingga bisa meraih bendera “Passing Grade 4.26” itu. Terima kasih Pak Guru, terima kasih bu Guru, terima kasih “Pahlawan tanpa tanda jasa” ku.

Kemahku di Sidlingo Part 4 (Last Part)

…Setelah makan malam dengan semangkuk “Mie rebus sederhana dan tak begitu lezat itu” kami pun mulai menata perlengkapan kami, khususnya tikar yang memang pada saat itu telah basah akibat hujan yang tak henti-hentinya mengguyur. Kami mulai berfikir untuk menggunakan segala perlengkapan kami untuk kami jadikan alas sebagai alat pembaringan kami, tapi kami harus menerima untuk tidak bisa tidur malam itu karena segalanya basah, tanah yang basah, kain yang basah, segalanya basah dan dalam keadaan itu kami hanya bisa pasrah.
Senter, lampu badai, Obor mulai dinyalakan. Udara yang dingin masih sangat terasa bahkan saking dinginnya kami tak bisa merasakan apa-apa lagi. Api unggun yang kami nyalakan malam itu menjadi teman setia yang sedikitnya mampu menghangatkan badan kami tapi api itu sewaktu-waktu bisa padam karena angin dan hujan bisa turun kapan saja, terpaksa kami bergantian menjaganya.
Keesokan harinya ketika aku bangun, kubuka mataku perlahan dan tak kusadari ternyata langit sudah nampak terang dihiasi dengan kabut putih, dengan sedikit cahaya yang masuk melalui celah-celah tenda. Dengan kepala yang agak pusing, kucoba bangkitkan tubuhku dan kulihat arlojiku dan.” Astaga..! sudah jam setengah tujuh..aku belum sholat subuh..” langsung saja aku buang selimut yang masih menempel ditubuhku dan tak kusadari ternyata baju yang kupakai telah kering, ya bisa dibilang “Baju satu kering di badan…he.he..” aku segera membangunkan teman-temanku yang lain yang masih terlelap seraya berteriak “ Ooey..udah siang.. Oey… bangun-bangun !”
Bersama beberapa temanku aku mulai mencari mata air yang ada di sekitar “Camp” untuk kami gunakan berwudhu dan cuci muka dan akhirnya kurang lebih satu kilometer dari camp kami menemukan mata air dan segera tanpa basa basi kamipun langsung bergantian cuci muka dan wudhu.
Air yang kami gunakan itu terasa sangat dingin, saking dinginnya kami tak berani berlama-lama, muka, telapak tangan dan kaki kami terasa kaku. Bahkan ketika aku berkumur, air itu seakan-akan menusuk nusuk gigiku, ” wah…sakit banget..”
Kami ragu apakah sholat subuh yang kami kerjakan itu sah karena kami baru melaksanakannya sekitar jam tujuh yang pada waktu itu cuacanya seperti jam enam pagi saja. Ya..mungkin ini adalah shalat subuh tersiang yang pernah aku kerjakan. Kami melakukannya karena hal itu kami rasa mungkin lebih baik daripada tidak melakukannya sama sekali.
Kegiatan yang tadinya sudah kami rencanakan akhirnya terpaksa kami batalkan, pendakian, penjelajahan serta kegiatan lain tidak jadi dilaksanakan karena cuaca dan keadaan tidak mendukung. Kami khawatir jika kami tetap melakukan kegiatan-kegiatan itu resiko dan bahaya akan semakin besar. Sehingga kami memutuskan untuk melakukan kegiatan hanya disekitar pemukiman kami.
Selama tiga hari dua malam kami lalui hari-hari kami ditenda. Perasaan susah dan senang menjadi satu, sesekali aku menghubungi keluargaku yang ada di rumah..untuk memberitahukan keadaanku disana, Karena aku tahu sifat Ortuku, mereka selalu khawatir jika aku sedang melakukan pendakian.
Mungkin ini bisa menjadi pengalaman serta pelajaran khususnya bagi diriku sendiri karena melakukan pendakian atau kemah bukan merupakan hal yang mudah, bukan hanya bersenang-senang tetapi disamping itu resiko, tantangan serta hambatan sewaktu waktu datang menghadang dan tak jarang hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi. Hanya satu sikap yang dapat mencegah hal itu, yakni “ Hati-hati ”.

The End….

KEMAHKU DI SLIDINGO PART III

Dan akhirnya satu persatu dari tenda itu berhasil kami dirikan walaupun rasanya kurang kokoh sebab patok yang kami tancapkan ditanah yang “bonyok” itu tidak begitu kuat. Tapi tak apalah yang penting “gubuk derita” kami sudah layak pakai.

Selesai mendirikan tenda kami pun beristirahat sejenak sambil memasukkan tas dan perlengkapan lain kedalam tenda. Dan tiba saat aku kesulitan untuk ganti baju, dalam hati ingin ganti pakaian tapi saat itu banyak orang, cewek-cowok pula (malu dong..). Akhirnya aku mengajak salah satu temanku untuk mencari tempat yang aman buat ganti baju. Setelah menemukan tempat yang aman dan tentunya jauh dari pemukiman kami, segera aku ganti baju. Bagiku saat itu ganti baju atau tidak sama saja sebab bajunya sama-sama basah, tapi lumayan dari pada nantinya gatal-gatal.

Selang beberapa saat ketika kami beristirahat dan menikmati dinginnya angin pegunungan didalam tenda masing-masing, tetesan air yang jatuh dari langit tiba-tiba terdengar diatas tenda kami, firasatku tidak enak sebab kelihatannya hujan akan segera turun. Aku mencoba keluar dari tenda dan belum sempat aku memasukkan sepatu dan sandal ke dalam tenda, tetesan kecil air itu berubah menjadi kucuran air yang memporak-porandakan tenda kami. “Hujan..hujan..hujan…!!.”. Seorang cewek berteriak seakan-akan ada badai topan saja. Kamipun segera masuk ke tenda. Di dalam tenda kami mengamankan perbekalan kami masing masing. Perlahan tapi pasti air hujan mengalir memasuki tenda kami, “Wah…gimana ini Wan..” seorang temanku berkata dengan nada panik. “Ya udah kalau begitu kita gulung aja tiker-nya, kita gunakan buat nutup tas kita, sementara kita “tongkrong” aja dulu..gimana?” Pendapat anehku tiba-tiba melesat. “Yo wess..” dengan sangat segera kami mengulung tikar dan meletakannya dipojok bersama tas-tas kami.

Cukup lama hujan mengguyur Camp Area kami menyebabkan tenda-tenda kami semakin “tak berbentuk”. Setelah hujan reda kamipun segera memperbaiki tenda dan membereskan segalanya yang belum beres. Waktu itu menunjukkan pukul enam petang, udara yang dingin semakin menusuk dan merasuk tulang –tulang kami. Padahal sudah berlipa-lipat kain aku kenakan tetapi dingin masih sangat terasa. Sampai tak kusadari setiap kali berbicara asap putih keluar dari setiap hembusan nafasku. Kata temenku seperti di film-film Korea aja..keren kan ?

Setelah menunaikan sholat maghrib sekaligus meng-qasar sholat isya’nya kamipun mempersiapkan hidangan untuk makan malamnya. Karena kami hanya membawa beberapa dus Sarimi untuk makan sehingga menu malam itu hanya “MIE REBUS” yah..cukup mewah untuk para Pecinta Alam pada umumnya. Dengan menggunakan seperangkat Kompor Medan (kompor yang terbuat dari sebuah kaleng bekas diisi kapas dan berbahan bakar spirtus) yang dinyalakan dan ditumpangi sebuah rantan berisi air, mi itu direbus. Mi rebus yang kami santap memang berbeda dengan mi yang biasa kami buat dirumah. Mi rebus disini nggak begitu matang, gimana mau matang belum sampai airnya mendidih mi-nya udah dimasukkan. Hal itu sangat aku maklumi sebab untuk merebus air sampai mendidih rasanya tidak mungkin didalam kondisi seperti itu apalagi ditunjang dengan perut yang tak kuasa menahan lapar, sehingga rasa sabar pun disini sangat minim.


Bersambung..

KEMAHKU DI SLIDINGO PART II

Setelah kuteguk beberapa botol air akhirnya kamipun kembali melanjutkan perjalanan yang masih lumayan jauh kira-kira setengah perjalan lagi. Sampai akhirnya kami sampai di sebuah Desa yang tidak begitu banyak penghuninya, suasana rumah yang beratapkan “Seng” beserta bongkahan-bongkahan batu yang menghiasi dinding setiap rumah menambah semangatku untuk sampai ke “Camp Area” (lho lha hubungannya apa tunggu..tunggu.. kan setelah aku ngelihat rumah-rumah semacam itu tiba-tiba aku inget sama rumahku sendiri..dan aku jadi kangen rumah, pengen cepet pulang soalnya kalau dirumah pasti bisa tidur enak, tidur dikasur yang empuk. Nggak kayak gini udah kehujanan, bawa tas berat, laper pula…). Wah jadi ngalantur nih ceritanya, ya udah aku lanjutkan.

Setelah itu aku beserta rombongan yang lain singgah di sebuah Musholla di Desa itu, waktu itu menunjukkan pukul dua seperempat. Kami cepat-cepat masuk ke musholla karena hujan makin lama makin deres. Segera kulepas tas yang super berat itu dari pundakku seakan-akan ingin aku lempar saja tas sialan itu. Kemudian tanpa banyak basa-basi aku langsung menuju ketempat air wudhu tanpa memperhatikan sepatu yang masih menempel di kakiku sampai ada seorang temanku berteriak “ heh…heh..Wan. Wan ini musholla batas sucinya ada disitu, kamu mau bikin musholla ini kotor ? “ wah..wah ternyata ada yang salah pada diriku “ O’o..sepatuku belum tak lepas..mati aku.” Langsung aja aku lepas sepatu kotorku itu dan aku lempar keluar dari batas suci.

Setelah menunaikan sholat dzuhur sekaligus sholat ashar (he..he..sholatnya jadi tak jama’ dan tak Qosor soalnya nanti takut waktunya habis diperjalan.) sambil mengendurkan urat-uratku disana ku coba membuka tas yang sudah “buruk rupa” itu dan kukeluarkan isinya, dan ternyata..hah..pakaian, makanan, perabotanku basah semua. Nggak bisa ganti baju nih. Padahal rasanya udah mau masuk angin. Aku yakin kalau dirumah dan dalam kondisi semacam itu aku pasti udah masuk angin, tapi disana beda..Tuhan memang Adil ya..?.

Selang beberapa saat kamipun melanjutkan perjalanan kembali, perjalanan yang sangat melelahkan. Ya.. hal itu terlihat ketika para rombongan sudah berubah menjadi sekitar “5 watt” alias “lemes”. Tapi kata-kata seperti “ Ayo...,tinggal satu bukit lagi..kok” selalu memberi motivasi kepada kami untuk terus melanjutkan perjalanan, walaupun setiap kata-kata itu diucapkan pasti bukit itu masih ada lagi, lagi dan lagi, rasanya nggak ada habisnya.

Setelah beberapa bukit terlalui akhirnya kamipun sampai di “Camp Area” sebuah telaga (Telaga Dlingo) yang sangat indah dihiasi padang rumput hijau disekitarnya, seakan sebagai hadiah untuk perjalanan kami yang sangat melelahkan tapi sayang waktu itu kabut mulai turun sehingga pandangan kami mulai sulit untuk melihat dari jarak sekitar sepuluh meter.
Kabut mulai tebal saja dan udara pun mulai dingin, semakin dingin dan dingin sekali… kami tak tahu arah dan waktu. tetapi setelah kulihat arlojiku yang mulai mengembun ternyata sudah jam setengah lima padahal sepertinya sudah maghrib, maklum waktu itu sangat gelap dan mendung. Tak lama kemudian kamipun saling membuka isi dari tas kami dan mengeluarkan tenda yang akan digunakan. Satu persatu dari kami mulai bergotong royong mendirikan tenda di pinggir telaga itu. Walaupun saat itu sangat sulit untuk menirikan tenda tapi kami terus berusaha keras mendirikannya supaya nanti kami dapat beristirahat dengan nyaman walaupun dengan tanah berlumpur.

Bersambung

KEMAHKU DI SLIDINGO PART II

Setelah kuteguk beberapa botol air akhirnya kamipun kembali melanjutkan perjalanan yang masih lumayan jauh kira-kira setengah perjalan lagi. Sampai akhirnya kami sampai di sebuah Desa yang tidak begitu banyak penghuninya, suasana rumah yang beratapkan “Seng” beserta bongkahan-bongkahan batu yang menghiasi dinding setiap rumah menambah semangatku untuk sampai ke “Camp Area” (lho lha hubungannya apa tunggu..tunggu.. kan setelah aku ngelihat rumah-rumah semacam itu tiba-tiba aku inget sama rumahku sendiri..dan aku jadi kangen rumah, pengen cepet pulang soalnya kalau dirumah pasti bisa tidur enak, tidur dikasur yang empuk. Nggak kayak gini udah kehujanan, bawa tas berat, laper pula…). Wah jadi ngalantur nih ceritanya, ya udah aku lanjutkan.

Setelah itu aku beserta rombongan yang lain singgah di sebuah Musholla di Desa itu, waktu itu menunjukkan pukul dua seperempat. Kami cepat-cepat masuk ke musholla karena hujan makin lama makin deres. Segera kulepas tas yang super berat itu dari pundakku seakan-akan ingin aku lempar saja tas sialan itu. Kemudian tanpa banyak basa-basi aku langsung menuju ketempat air wudhu tanpa memperhatikan sepatu yang masih menempel di kakiku sampai ada seorang temanku berteriak “ heh…heh..Wan. Wan ini musholla batas sucinya ada disitu, kamu mau bikin musholla ini kotor ? “ wah..wah ternyata ada yang salah pada diriku “ O’o..sepatuku belum tak lepas..mati aku.” Langsung aja aku lepas sepatu kotorku itu dan aku lempar keluar dari batas suci.

Setelah menunaikan sholat dzuhur sekaligus sholat ashar (he..he..sholatnya jadi tak jama’ dan tak Qosor soalnya nanti takut waktunya habis diperjalan.) sambil mengendurkan urat-uratku disana ku coba membuka tas yang sudah “buruk rupa” itu dan kukeluarkan isinya, dan ternyata..hah..pakaian, makanan, perabotanku basah semua. Nggak bisa ganti baju nih. Padahal rasanya udah mau masuk angin. Aku yakin kalau dirumah dan dalam kondisi semacam itu aku pasti udah masuk angin, tapi disana beda..Tuhan memang Adil ya..?.

Selang beberapa saat kamipun melanjutkan perjalanan kembali, perjalanan yang sangat melelahkan. Ya.. hal itu terlihat ketika para rombongan sudah berubah menjadi sekitar “5 watt” alias “lemes”. Tapi kata-kata seperti “ Ayo...,tinggal satu bukit lagi..kok” selalu memberi motivasi kepada kami untuk terus melanjutkan perjalanan, walaupun setiap kata-kata itu diucapkan pasti bukit itu masih ada lagi, lagi dan lagi, rasanya nggak ada habisnya.

Setelah beberapa bukit terlalui akhirnya kamipun sampai di “Camp Area” sebuah telaga (Telaga Dlingo) yang sangat indah dihiasi padang rumput hijau disekitarnya, seakan sebagai hadiah untuk perjalanan kami yang sangat melelahkan tapi sayang waktu itu kabut mulai turun sehingga pandangan kami mulai sulit untuk melihat dari jarak sekitar sepuluh meter.
Kabut mulai tebal saja dan udara pun mulai dingin, semakin dingin dan dingin sekali… kami tak tahu arah dan waktu. tetapi setelah kulihat arlojiku yang mulai mengembun ternyata sudah jam setengah lima padahal sepertinya sudah maghrib, maklum waktu itu sangat gelap dan mendung. Tak lama kemudian kamipun saling membuka isi dari tas kami dan mengeluarkan tenda yang akan digunakan. Satu persatu dari kami mulai bergotong royong mendirikan tenda di pinggir telaga itu. Walaupun saat itu sangat sulit untuk menirikan tenda tapi kami terus berusaha keras mendirikannya supaya nanti kami dapat beristirahat dengan nyaman walaupun dengan tanah berlumpur.

Bersambung

KEMAHKU DI SLIDINGO PART I

“Dingin…dingin banget” kata –kata itu yang sering aku ucapkan pas aku kemah di Desa Sidlingo (tepatnya di kawasan Dieng). Entah aku emang apes ato engga, bisa-bisanya aku ikut di Kemah yang “Super Menantang” itu. Gimana ga menantang coba, sebelumnya aku ngga pernah “tidur di tanah berlumpur plus kehujanan yang suhunya sekitar 15 derajat Celcius, dingin banget” tapi itu merupakan pengalaman yang sudah mengisi hidupku, hingga aku menulis artikel ini.

Firasat tak enakku memang telah muncul saat berangkat menuju ke “Camp Area”. Hujan yang terus mengguyur membuat perbekalan rombongan kami basah di atas truk yang kurang lebih memuat 25 anak. Hingga pada suatu ketika saat truk mulai mengeluarkan tenaganya dengan ekstra keras menaiki jalan berlumpur dan curam, seolah-olah truk tersebut mau mundur. “Subhanallah….!, Astaghfirullah…!, Allahhu Akbar..!” kata-kata itu yang acap kali diteriakkan pada saat truk mulai tidak kuasa naik untuk yang kesekian kalinya. “Ya Allah..!!” seorang anak perempuan dengan teriakan penuh cemas dan menangis. Dan akhirnya truk kamipun berhenti sejenak. Kemudian dengan sekuat tenaga “pak supir” menekan pedal gas truknya dan akhirnya ”Alhamdulillah” tak terasa jalan yang curam itupun terlalui.

Ketika truk kami tiba di Desa Gerlang (tepatnya di SD 1 Gerlang) kami berhenti disana untuk kemudian melanjutkan perjalanan kami by “Long March” kurang lebih 3 Km. Saat itupun hujan belum juga reda hingga terpaksa kami merelakan diri berhujan-hujanan sambil menggendong tas yang memang beratnya menjadi 2 kali lipat dari sebelumnya., maklum kebasahan. Setapak demi setapak perjalanan kami lalui, hingga “Nur Hamidah” salah seorang dari rombongan kami bilang “ Mas Wawan..Istirat dulu aku dah nggak kuat” dan akhirnya aku dan sebagian anak yang lainpun beristirahat sejenak. Sambil istirahat kuambil sebungkus roti yang memang telah kupersiapkan dirumah, akan tetapi…. dalam sekejap roti itu amblas dari tanganku. Aku akui memang saat itu teman-teman memang lagi laper-lapernya, tapi tak apalah aku masih dapet sisa.

Setalah kuteguk beberapa botol air akhirnya kamipun kembali melanjutkan perjalanan yang masih lumayan jauh kira-kira setengah perjalan lagi. Sampai akhirnya kami sampai di sebuah Desa yang tidak begitu banyak penghuninya, suasana rumah yang beratapkan “Seng” beserta bongkahan-bongkahan batu yang menghiasi dinding setiap rumah menambah semangatku untuk sampai ke “Camp Area” (lho lha hubungannya apa tunggu..tunggu.. kan setelah aku ngelihat rumah-rumah semacam itu tiba-tiba aku inget sama rumahku sendiri..dan aku jadi kangen rumah, pengen cepet pulang soalnya kalau dirumah pasti bisa tidur enak, tidur dikasur yang empuk. Nggak kayak gini udah kehujanan, bawa tas berat, laper pula…). Wah jadi ngalantur nih ceritanya, ya udah aku lanjutkan.

Setelah itu aku beserta rombongan yang lain singgah di sebuah Musholla di Desa itu, waktu itu menunjukkan pukul dua seperempat. Kami cepat-cepat masuk ke musholla karena hujan makin lama makin deres. Segera kulepas tas yang super berat itu dari pundakku seakan-akan ingin aku lempar saja tas sialan itu. Kemudian tanpa banyak basa-basi aku langsung menuju ketempat air wudhu tanpa memperhatikan sepatu yang masih menempel di kakiku sampai ada seorang temanku berteriak “ heh…heh..Wan. Wan ini musholla batas sucinya ada disitu, kamu mau bikin musholla ini kotor ? “ wah..wah ternyata ada yang salah pada diriku “ O’o..sepatuku belum tak lepas..mati aku.” Langsung aja aku lepas sepatu kotorku itu dan aku lempar keluar dari batas suci.

Setelah menunaikan sholat dzuhur sekaligus sholat ashar (he..he..sholatnya jadi tak jama’ dan tak Qosor soalnya nanti takut waktunya habis diperjalan.) sambil mengendurkan urat-uratku disana ku coba membuka tas yang sudah “buruk rupa” itu dan kukeluarkan isinya, dan ternyata..hah..pakaian, makanan, perabotanku basah semua. Nggak bisa ganti baju nih. Padahal rasanya udah mau masuk angin. Aku yakin kalau dirumah dan dalam kondisi semacam itu aku pasti udah masuk angin, tapi disana beda..Tuhan memang Adil ya..?.

Selang beberapa saat kamipun melanjutkan perjalanan kembali, perjalanan yang sangat melelahkan. Ya.. hal itu terlihat ketika para rombongan sudah berubah menjadi sekitar “5 watt” alias “lemes”. Tapi kata-kata seperti “ Ayo...,tinggal satu bukit lagi..kok” selalu memberi motivasi kepada kami untuk terus melanjutkan perjalanan, walaupun setiap kata-kata itu diucapkan pasti bukit itu masih ada lagi, lagi dan lagi, rasanya nggak ada habisnya.

Setelah beberapa bukit terlalui akhirnya kamipun sampai di “Camp Area” sebuah telaga (Telaga Dlingo) yang sangat indah dihiasi padang rumput hijau disekitarnya, seakan sebagai hadiah untuk perjalanan kami yang sangat melelahkan tapi sayang waktu itu kabut mulai turun sehingga pandangan kami mulai sulit untuk melihat dari jarak sekitar sepuluh meter.

Kabut mulai tebal saja dan udara pun mulai dingin, semakin dingin dan dingin sekali… kami tak tahu arah dan waktu. tetapi setelah kulihat arlojiku yang mulai mengembun ternyata sudah jam setengah lima padahal sepertinya sudah maghrib, maklum waktu itu sangat gelap dan mendung. Tak lama kemudian kamipun saling membuka isi dari tas kami dan mengeluarkan tenda yang akan digunakan. Satu persatu dari kami mulai bergotong royong mendirikan tenda di pinggir telaga itu. Walaupun saat itu sangat sulit untuk menirikan tenda tapi kami terus berusaha keras mendirikannya supaya nanti kami dapat beristirahat dengan nyaman walaupun dengan tanah berlumpur.

AKU, HERMAN DAN ANDRE DALAM “ENGLISH DEBATE CONTEST”

Kontes debat Bahasa Inggris yang dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 2 Maret 2006 di SMK N 1 Slawi Kabupaten Tegal itu benar-benar seru. Acara “English Debate Contest” itu diikuti oleh 6 Kota yang masing-masing diwakili oleh satu Tim yang terdiri dari tiga siswa SMK se-Karesidenan Pekalongan.

Sebelum mengikuti acara tersebut terlebih dahulu ada penyeleksian yang diikuti oleh seluruh SMK se-Kota Pekalongan yang nantinya akan dipilih tiga finalis yang akan dijadikan satu Tim untuk mewakili kota Pekalongan dalam Kompetisi selanjutnya. Dan Alhamdulillah kami ber-tiga (Saya, Herman dan Andre Luppy) akhirnya terpilih menjadi Tim tersebut.

Setelah melalui proses latihan yang cukup keras dan memakan waktu, (gimana ga memakan waktu coba, kami sampai ngga ikut pelajaran beberapa kali saat latihan) tetapi kami rasa itu nggak terlalu bermasalah soalnya kami masih bisa meminjam catatan teman untuk ditulis..eh enggak di fotocoy he.he..) tapi nggak apalah dari pada nggak.

Kami dilatih oleh tiga guru Bahasa Inggris yakni Mrs. Deli (SMK 2 Pekalongan), Mr. Lukman (SMK Muhammadiyah) dan Mrs. Adit (SMK 1 Pekalongan). Mereka bertiga melatih kami dengan tekun dan sabar. Hingga pada suatu saat saking melatih dengan sangat telatennya Mrs. Deli pun berkata “ Andre!, Pronouncetion kamu belum bener, coba ulangi lagi !!). ya itulah guru kami, kami sangat salut dengan mereka.

Dan Akhirnya hari itu (English Debate Contest) pun dimulai. Kami berangkat dari Pekalongan sekitar pukul enam pagi (padahal kami sudah menunggu dari jam lima pagi lho..! bener-bener jam pekalongan “Jam Karet”) kami berangkat bersama Pak Kepala Sekolah dan guru Bahasa inggris kami Mrs. Deli. Kami tiba di SMK 1 Slawi jam 8 pagi dan rupannya kami adalah peserta yang terakhir tiba di tempat itu, wah.. telat.

Tim kami mendapatkan nomor urut 2 (he..he nomor keberuntunganku..) dan akan berhadapan dengan Tim dari kota Pemalang (kata bu Deli, kota itu adalah kota yang dulu pernah meraih juara 2 saat kontes debat Bahasa Inggris tahun lalu) tapi kami nggak berkecil hati karena kami akan terus berjuang..(wahh kayak perang aja..). Tim itu terdiri dari tiga orang cowok yang satu tinggi besar tetapi yang lainnya nggak beda jauh dari kami.

Kontespun dimulai, setelah diundi kamipun ditentukan sebagai “Affirmative Team” atau Tim Positif/Pendukung dan Tim dari Kota Pemalang sebagai “Negative Team” atau Tim Negatif/Penyanggah. Pada saat itu Tema yang akan diperdebatkan adalah “This Hause believes that electricity tariff increase for welfare” yang artinya “DPR pecaya bahwa kenaikan tariff listrik adalah untuk kesejahteraan”. Aku mendapat giliran pertama untuk memberikan argumentasi tentang masalah tersebut, saat itu aku sangat nerveus karena itu adalah pengalamanku yang bertama tetapi setelah melalui perdebatan yang cukup sengit akhirnya Tim kamipun dinyatakan sebagai pemenangnya.

Perasaan senang saat itupun menyelimuti hati kami, tapi kami juga masih deg-degan karena akan berhadapan dengan Tim pemenang yang lain. Setelah babak penyisihan berakhir kami pun langsung berhadapan dengan finalis dari Tim kota Tegal. Semua pesertanya cewek berbeda sekali dengan lawan kami sebelumnya yang semua anggotanya cowok dan kelihatannya mereka semua sangat cerewet dalam berbahasa inggris tetapi seperti biasa kami nggak mau menyerah sebelum bertanding.

Babak terakhir itu pun segera dimulai. Masing-masing tim menuju kemeja “Perdebatan”. Oleh Chairperson (pemimpin pertandingan) kami ditentukan sebagai tim negatif dan mereka sebagai tim positif dan saat itu “Motion” atau tema yang diberikan adalah “SMA student is cleverer than SMK student” yang artinya “Siswa SMA lebih pandai dari pada siswa SMK” Kami diberikan waktu dua puluh menit untuk berunding. Dan akhirnya..” Ting…..” debat pun segera dimulai.

Orang pertama dari tim positif maju duluan untuk memberikan argumentasi. Dan ternyata “hah…aku tekagum-kagum karena cewek itu bener-bener lancar dalam Speaking-nya. Setelah itu giliran aku sebagai orang pertama dari tim negatif memberikan argumentasi. Aku sangat nerveus waktu itu hal itu sangat kelihatan ketika aku memegang Mike dengan tangn yang gemetaran. Tapi hal itu segera hilang untuk beberapa saat.

Kami memang sudah merasa Tim kami akan kalah dalam debat tersebut karena argumentasi yang kami berikan selalu dapat dipatahkan oleh mereka. Setelah masing-masing dari tim kami dan mereka memberikan argumentasinya acara itupun berakhir. Kami menunggu beberapa saat untuk menunggu pengumuman pemenang dari debat tersebut. Dan akhirnya Tim kamipun kalah beberapa skor dibawah Tim dari kota Tegal.

Perasaan sedih dan kecewapun akhirnya juga melekat dalam hati kami. Tapi nggak apa-apa karena kami masih mendapatkan juara 2 dan akan menuju ketingkat Provinsi bersama Tim dari kota Tegal di kota Semarang tanggal 24 Maret nanti.(kk/3/3/2006).

Saturday, June 03, 2006

Setelah melalui berbagai improvisasi, akhirnya blog ini dapat saya perbaharui, setelah lama terlihat “vacuum”.

Website ini telah mengalami banyak perubahan, baik pada sisi
tampilan (layout), fitur maupun isi.

Semoga dengan tampilan template yang baru ini pengunjung akan semakin merasa “eye-catching” dan “friendly” dengan website ini. Dan dengan hadirnya fitur-fitur baru ini saya harap dapat lebih memikat.

Silahkan nikmati tampilan baru dari website ini yang setidaknya akanmembuat Anda semakin Awet Muda.

Tanggapan mengenai perubahan ini dapat Anda sampaikan ke e-mail kabulkurniawan@yahoo.co.id atau mengirimkan pesan secara langsung melalui website ini. Saya tunggu loh !


Pekalongan, 5 Juni 2006


Kabul Kurniawan
Kontributor