KEMAHKU DI SLIDINGO PART III
Dan akhirnya satu persatu dari tenda itu berhasil kami dirikan walaupun rasanya kurang kokoh sebab patok yang kami tancapkan ditanah yang “bonyok” itu tidak begitu kuat. Tapi tak apalah yang penting “gubuk derita” kami sudah layak pakai.
Selesai mendirikan tenda kami pun beristirahat sejenak sambil memasukkan tas dan perlengkapan lain kedalam tenda. Dan tiba saat aku kesulitan untuk ganti baju, dalam hati ingin ganti pakaian tapi saat itu banyak orang, cewek-cowok pula (malu dong..). Akhirnya aku mengajak salah satu temanku untuk mencari tempat yang aman buat ganti baju. Setelah menemukan tempat yang aman dan tentunya jauh dari pemukiman kami, segera aku ganti baju. Bagiku saat itu ganti baju atau tidak sama saja sebab bajunya sama-sama basah, tapi lumayan dari pada nantinya gatal-gatal.
Selang beberapa saat ketika kami beristirahat dan menikmati dinginnya angin pegunungan didalam tenda masing-masing, tetesan air yang jatuh dari langit tiba-tiba terdengar diatas tenda kami, firasatku tidak enak sebab kelihatannya hujan akan segera turun. Aku mencoba keluar dari tenda dan belum sempat aku memasukkan sepatu dan sandal ke dalam tenda, tetesan kecil air itu berubah menjadi kucuran air yang memporak-porandakan tenda kami. “Hujan..hujan..hujan…!!.”. Seorang cewek berteriak seakan-akan ada badai topan saja. Kamipun segera masuk ke tenda. Di dalam tenda kami mengamankan perbekalan kami masing masing. Perlahan tapi pasti air hujan mengalir memasuki tenda kami, “Wah…gimana ini Wan..” seorang temanku berkata dengan nada panik. “Ya udah kalau begitu kita gulung aja tiker-nya, kita gunakan buat nutup tas kita, sementara kita “tongkrong” aja dulu..gimana?” Pendapat anehku tiba-tiba melesat. “Yo wess..” dengan sangat segera kami mengulung tikar dan meletakannya dipojok bersama tas-tas kami.
Cukup lama hujan mengguyur Camp Area kami menyebabkan tenda-tenda kami semakin “tak berbentuk”. Setelah hujan reda kamipun segera memperbaiki tenda dan membereskan segalanya yang belum beres. Waktu itu menunjukkan pukul enam petang, udara yang dingin semakin menusuk dan merasuk tulang –tulang kami. Padahal sudah berlipa-lipat kain aku kenakan tetapi dingin masih sangat terasa. Sampai tak kusadari setiap kali berbicara asap putih keluar dari setiap hembusan nafasku. Kata temenku seperti di film-film Korea aja..keren kan ?
Setelah menunaikan sholat maghrib sekaligus meng-qasar sholat isya’nya kamipun mempersiapkan hidangan untuk makan malamnya. Karena kami hanya membawa beberapa dus Sarimi untuk makan sehingga menu malam itu hanya “MIE REBUS” yah..cukup mewah untuk para Pecinta Alam pada umumnya. Dengan menggunakan seperangkat Kompor Medan (kompor yang terbuat dari sebuah kaleng bekas diisi kapas dan berbahan bakar spirtus) yang dinyalakan dan ditumpangi sebuah rantan berisi air, mi itu direbus. Mi rebus yang kami santap memang berbeda dengan mi yang biasa kami buat dirumah. Mi rebus disini nggak begitu matang, gimana mau matang belum sampai airnya mendidih mi-nya udah dimasukkan. Hal itu sangat aku maklumi sebab untuk merebus air sampai mendidih rasanya tidak mungkin didalam kondisi seperti itu apalagi ditunjang dengan perut yang tak kuasa menahan lapar, sehingga rasa sabar pun disini sangat minim.
Bersambung..



0 Comments:
Post a Comment
<< Home