Wednesday, August 02, 2006

KEMAHKU DI SLIDINGO PART I

“Dingin…dingin banget” kata –kata itu yang sering aku ucapkan pas aku kemah di Desa Sidlingo (tepatnya di kawasan Dieng). Entah aku emang apes ato engga, bisa-bisanya aku ikut di Kemah yang “Super Menantang” itu. Gimana ga menantang coba, sebelumnya aku ngga pernah “tidur di tanah berlumpur plus kehujanan yang suhunya sekitar 15 derajat Celcius, dingin banget” tapi itu merupakan pengalaman yang sudah mengisi hidupku, hingga aku menulis artikel ini.

Firasat tak enakku memang telah muncul saat berangkat menuju ke “Camp Area”. Hujan yang terus mengguyur membuat perbekalan rombongan kami basah di atas truk yang kurang lebih memuat 25 anak. Hingga pada suatu ketika saat truk mulai mengeluarkan tenaganya dengan ekstra keras menaiki jalan berlumpur dan curam, seolah-olah truk tersebut mau mundur. “Subhanallah….!, Astaghfirullah…!, Allahhu Akbar..!” kata-kata itu yang acap kali diteriakkan pada saat truk mulai tidak kuasa naik untuk yang kesekian kalinya. “Ya Allah..!!” seorang anak perempuan dengan teriakan penuh cemas dan menangis. Dan akhirnya truk kamipun berhenti sejenak. Kemudian dengan sekuat tenaga “pak supir” menekan pedal gas truknya dan akhirnya ”Alhamdulillah” tak terasa jalan yang curam itupun terlalui.

Ketika truk kami tiba di Desa Gerlang (tepatnya di SD 1 Gerlang) kami berhenti disana untuk kemudian melanjutkan perjalanan kami by “Long March” kurang lebih 3 Km. Saat itupun hujan belum juga reda hingga terpaksa kami merelakan diri berhujan-hujanan sambil menggendong tas yang memang beratnya menjadi 2 kali lipat dari sebelumnya., maklum kebasahan. Setapak demi setapak perjalanan kami lalui, hingga “Nur Hamidah” salah seorang dari rombongan kami bilang “ Mas Wawan..Istirat dulu aku dah nggak kuat” dan akhirnya aku dan sebagian anak yang lainpun beristirahat sejenak. Sambil istirahat kuambil sebungkus roti yang memang telah kupersiapkan dirumah, akan tetapi…. dalam sekejap roti itu amblas dari tanganku. Aku akui memang saat itu teman-teman memang lagi laper-lapernya, tapi tak apalah aku masih dapet sisa.

Setalah kuteguk beberapa botol air akhirnya kamipun kembali melanjutkan perjalanan yang masih lumayan jauh kira-kira setengah perjalan lagi. Sampai akhirnya kami sampai di sebuah Desa yang tidak begitu banyak penghuninya, suasana rumah yang beratapkan “Seng” beserta bongkahan-bongkahan batu yang menghiasi dinding setiap rumah menambah semangatku untuk sampai ke “Camp Area” (lho lha hubungannya apa tunggu..tunggu.. kan setelah aku ngelihat rumah-rumah semacam itu tiba-tiba aku inget sama rumahku sendiri..dan aku jadi kangen rumah, pengen cepet pulang soalnya kalau dirumah pasti bisa tidur enak, tidur dikasur yang empuk. Nggak kayak gini udah kehujanan, bawa tas berat, laper pula…). Wah jadi ngalantur nih ceritanya, ya udah aku lanjutkan.

Setelah itu aku beserta rombongan yang lain singgah di sebuah Musholla di Desa itu, waktu itu menunjukkan pukul dua seperempat. Kami cepat-cepat masuk ke musholla karena hujan makin lama makin deres. Segera kulepas tas yang super berat itu dari pundakku seakan-akan ingin aku lempar saja tas sialan itu. Kemudian tanpa banyak basa-basi aku langsung menuju ketempat air wudhu tanpa memperhatikan sepatu yang masih menempel di kakiku sampai ada seorang temanku berteriak “ heh…heh..Wan. Wan ini musholla batas sucinya ada disitu, kamu mau bikin musholla ini kotor ? “ wah..wah ternyata ada yang salah pada diriku “ O’o..sepatuku belum tak lepas..mati aku.” Langsung aja aku lepas sepatu kotorku itu dan aku lempar keluar dari batas suci.

Setelah menunaikan sholat dzuhur sekaligus sholat ashar (he..he..sholatnya jadi tak jama’ dan tak Qosor soalnya nanti takut waktunya habis diperjalan.) sambil mengendurkan urat-uratku disana ku coba membuka tas yang sudah “buruk rupa” itu dan kukeluarkan isinya, dan ternyata..hah..pakaian, makanan, perabotanku basah semua. Nggak bisa ganti baju nih. Padahal rasanya udah mau masuk angin. Aku yakin kalau dirumah dan dalam kondisi semacam itu aku pasti udah masuk angin, tapi disana beda..Tuhan memang Adil ya..?.

Selang beberapa saat kamipun melanjutkan perjalanan kembali, perjalanan yang sangat melelahkan. Ya.. hal itu terlihat ketika para rombongan sudah berubah menjadi sekitar “5 watt” alias “lemes”. Tapi kata-kata seperti “ Ayo...,tinggal satu bukit lagi..kok” selalu memberi motivasi kepada kami untuk terus melanjutkan perjalanan, walaupun setiap kata-kata itu diucapkan pasti bukit itu masih ada lagi, lagi dan lagi, rasanya nggak ada habisnya.

Setelah beberapa bukit terlalui akhirnya kamipun sampai di “Camp Area” sebuah telaga (Telaga Dlingo) yang sangat indah dihiasi padang rumput hijau disekitarnya, seakan sebagai hadiah untuk perjalanan kami yang sangat melelahkan tapi sayang waktu itu kabut mulai turun sehingga pandangan kami mulai sulit untuk melihat dari jarak sekitar sepuluh meter.

Kabut mulai tebal saja dan udara pun mulai dingin, semakin dingin dan dingin sekali… kami tak tahu arah dan waktu. tetapi setelah kulihat arlojiku yang mulai mengembun ternyata sudah jam setengah lima padahal sepertinya sudah maghrib, maklum waktu itu sangat gelap dan mendung. Tak lama kemudian kamipun saling membuka isi dari tas kami dan mengeluarkan tenda yang akan digunakan. Satu persatu dari kami mulai bergotong royong mendirikan tenda di pinggir telaga itu. Walaupun saat itu sangat sulit untuk menirikan tenda tapi kami terus berusaha keras mendirikannya supaya nanti kami dapat beristirahat dengan nyaman walaupun dengan tanah berlumpur.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home